Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

mazra family

 Cinta, Harapan, dan Kebahagiaan

dingin
buyarku dengan segala asa
diterpa angin
mengigil dalam kerinduan
aku yang yang dinanti
aku yang dicinta
dan aku yang diharapkan
Senyum mereka ini yang ingin selalu ingin aku pertahankan





 apapun itu
dan bagaimanapun keaadaanku
semua akan kuperjuangkan demi mereka
orang-orang tercintaku
aku sangat mencintai mereka
disanalah aku tertawa
disanalah aku bahagia
dan disanalah aku memperoleh cinta sejati
my family

Kakak tercinta(jilbab cokelat dress kuning) Arina Novida, adik sepupu(jilbab hitam) Tisna Eliza
aku juga akan selalu mempertahankan kehangatan itu
kehangatan yang tak pernah kudapat dimanapun
sebahagia apapun aku, tak pernah kubisa senyaman dan sebahagia dirumah
dan serapuh apapun aku
mereka tak pernah lari dan bahkan berdiri kuat dibelakangku

tetap semangat, ayo Wak ii. bisa...!!! 



dan nanti
bila aku tertatih
bila aku terhenti
bila kejenuhan menghampiri
ku kan kembali padamu
tujuan dan prinsip hidupku
karena
aku sangat
bahkan benar-benar mencintai Ayah, Ibu, Uni, dan Adik-adik



Pulang, setelah semua usai, Maka rumahlah tujuanku
setelah semua selesai
aku akan menuju jalan pulang
pulang ke rumah dengan sejuta harapan
menuju, Ayah, Ibu, Uni, dan Adik-adik yang selalu kurindukan

 
Nanti, perginya sama mobil pribadi Wak ii lagi ya  Dad, Mam, Uni, Adik, Etek. Semoga. Amiin

 jalan arah pulang
arah yang akan selalu kulalui
dan akan kurindukan

Mazra family is my life
tertanda hari ini, cinta ini masih utuh untuk mereka
masih menderu untuknya: Mam, Dad, Uni, dan Adik-adik. 

Semua karena Cinta
dan semua untuk Cinta
Mazra Family is real life
This time, the port is where my love



Refleksi Diri



Beroleh Cermin

Terima kasih sahabat-sahabatku. Hari ini aku beroleh cermin. Cemin yang dapat mengungkapkan, merefleksikan, dan juga merafraksikan apa kelemahan-kelemahanku. Bak kata pepatah “Kuman diseberang laut tampak jelas sementara gajah dipelupuk mata tidak terlihat.” Begitulah perumpamaan diriku, aku makhluk sesempurnaan ciptaan Tuhan, namun sikapku tak pernah sempurna.
Pertama, menurut sahabat-sahabatku, ternyata aku terlalu mudah tersinggung. Mungkinkah? Ha, hal itu mungkin saja, aku mengerti maksud dari sahabatku itu. Aku terkadang lebih baik diam dalam kesendirian dari pada harus bersitegang dalam ketidakpastian. Aku lebih suka mundur, diam, dan menarik diri ketika suatu hal yang kuanggap telah melewati batas pengeritanku. Maafkan aku sahabatku, dengan sikapku yang demikian membuat batas di antara kita, semoga kedepannya aku lebih bisa bersabar dan mencoba mengerti dengan selapang-lapangnya. Aamiin.
Kedua, sahabatu mengatakan, berbuatlah ikhlas karena Allah. Terima kasih kuucapkan kepada sahabatku yang selalu mengingatkanku dijalan-Nya. Aku tidak akan meninggalkan keikhlasan dalam berbuat. Semuanya teniat, ikhlas karena Allah. Apakah menurut sahabatku aku tidak pernah ikhlas? Ternyata tidak, sahabatku ini hanya ingin mengingatkan ketulusan selalu yang akan terniat olehku. Sahabatku selalu menginginkan yang terbaik untukku dalam meraih ridho-Nya.
Ketiga, dimata sahabatku, aku adalah seorang yang terlalu sibuk. Hal ini mungkin saja. Aku memang disibukkan oleh aktivitas kuliah dan keterlibatanku disebuah organisasi, yaitu Surat Kabar Kampus (Ganto). Terima kasih sahabatku atas perhatiannya, ke depannya aku mencoba mengatur waktu, menjaga kesehatan, dan berbagi canda denganmu. Aku mengerti sahabatku, aku serasa tenggelam di hadapan sahabatku ini karena sebelumnya aku dan kamu bagai tali dengan sepatunya. Yang terasa kurang lengkap bilaku tak di sisimu. Sahabatku, semoga kedepannya aku lebih bijak mengatur jadwal demi kebersamaan dalam kehangatan bersamamu. Semoga.
Keempat, aku mendapat pernyataan tidak setuju dari salah seorang sahabatku. Sahabatku mengatakan, kalau ada orang hutang pulsa jangan diumbar di jejaring sosial. Haha. Aku hanya tertawa ringan dengan pernyataan sahabatku ini. Hal tersebut aku lakukan bukan bermaksud mempermalukan dan sebagainya, tapi aku hanya mencoba mencari topik menarik supaya aku bisa menyatu dalam obrolan denganmu. Terima kasih sahabatku, kedepannya aku akan memperbaiki diri dan memikirkan jauh kedepan apa dampak dari tindakanku tersebut. Terima kasih.
Kelima, menurut sahabatku yang satu ini, aku adalah seorang yang memiliki kepribadian yang tenang. Namun tak cukup sampai di sana. Sahabatku berharap, aku lebih banyak senyum kedepannya. Sebelumnya kuucapkan terima kasih, dan aku akan berusaha akan lebih ramah lagi dan memperbanyak senyum lagi. Hehe. Aku akan selalu tersenyum untukmu para sahabatku.
            Keenam, sahabatku mengatakan bahwa dirinya menyukai aku disaat aku berbicara, aku dianggap sangat berhati-hati memilih diksi yang digunakan, lembut, dan mudah tersenyum. Ternyata dimata sahabatku ini, aku masih memiliki sisi baik dalam keseharianku. Aku akan lebih berhati-hati berbicara, berlemah-lembut, dan akan menjaga senyuman untuk semuanya.
            Ketujuh, menurut sahabatku yang satu ini, aku adalah pribadi yang selalu sabar. Dia menyukaiku dan akan selalu mau menjadi sahabatku. Aku berterima kasih kepada sahabatku ini, semoga aku akan abadi dalam kesabaran. Bersabar selagi semua masih dalam batas kewajaran. Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu sahabat-sahabatku. Aku akan hidup bersama kalian dalam cinta dan kehangatan dalam kesetiaan. Selamanya.
Semoga saja aku mampu "menjaganya" dalam ketulusan.
         Inilah kebenaran dari diriku, pernyataan dimana aku bukanlah seorang yang sempurna. Sikapku jelas tak sempurna. Diriku dengan segala kekurangan. Diriku atas kelebihanku. Aku hanya insan biasa. Akupun tak sempurna. Akan mencoba memperbaiki semua yang bisa aku perbaiki. Walau nanti tetap tak sempurna, tapi aku akan salalu berusaha menjadi pribadi yang mendekati sempurna untukmu sahabat-sahabatku, keluargaku, dan semua orang-orang tercintaku.

Kamis, 29 November 2012

Realize


                                Woke Up

Semalam tadi, bukan akhir malam bagi saya. Saya yang telah menuding mati dari rasa dan pikiran. Serasa hidup kembali, saya tertangani hebat oleh dokter handal. Dia mampu membangunkan saya dari mati. Memang takkan saya atau kamu temukan di Rumah Sakit manapun. Saya menemukannya direlung hati. Hati yang menuntun saya. Bertemu dalam pikiran. Dalam rasa yang tak pernah saya sesalkan. Walau tak terealisasikan, namun saya bangga bertahan.
Tulisannya menghidupkan saya kembali. Entah karena memang saya tersentuh dengan apa yang dia tulis? Atau hanya karena saya mengaguminya. Rasa itu tak dapat saya deskripsikan. Namun saya beruntung, dapat bernafas dalam sadar.
Saya tak pernah menyalahkan apapun dan siapapun, namun saya tak sanggup berjalan diatas normal. Saat harapan saya jatuh di tempat yang pernah saya rencanakan. Dengan tidak melupakan Tuhan, saya sedikit tertatih ketika harus menerima, bahwa saya harus terpisah jauh dari harapan orang tua, uni, dan uda saya. Memang, mimpi untuk bersama uda di Teknik Kimia UI terus membayanggi saya. Walau sudah setahun lebih bermain di kawasan sastra, kependidikan, dan jurnalis. Saya masih saja terus berani hidup dalam bayang angan-angan yang sekarang tergantung entah dimana.
Saya masih saja ragu, tentang kepastian takdir yang memang sedang saya jalani sekarang. Terus saja saya bekata lirih pada diri: sabar, ini hanya sementara. Saya tak pernah berani untuk benar-benar bangun dari mimpi-mimpi itu.
Dan sekarang! Saya memang harus tegas. Saya tidak sedang bermimpi. Memang sudah takdir saya untuk berada di sini. Saya harus rasional, dan disinilah saya harus berjalan bersama asa dan segelumit harapan orang tua. I love mazra family: mam, dad, sist, n my bro. special,orang baru dalam hidupku, ilove my inspiration
Selasa malam, 27 November 2012